Pasokan Kroto Berkurang Jangkrik Mulai Naik

Posted by Kang Kroto on Tuesday, December 16, 2014

Pasokan Kroto Berkurang Jangkrik Mulai Naik - Awal musim hujan sejak bulan November 2014 kemarin tanda-tanda berkurangnya pasokan kroto dari alam semakin jelas. Hal ini memberikan peluang kepada para peternak jangkrik. Ya, jangkrik adalah alternatif pakan burung ocehan setelah kroto. Kualitas jangkrik sebagai pakan burung kicauan memang sedikit di bawah kroto, namun demikian permintaan jangkrik oleh para hobiis burung pendendang tetap tinggi, mengingat harga kedua pakan tersebut terpaut cukup jauh.

Berkurangnya pasokan kroto dari alam sebenarnya menguntungkan bagi para peternak semut rangrang. Namun belum banyak peternak kroto yang berhasil, kebanyakan mereka masih uji coba, masih belajar budidayanya, dan tidak sedikit pula yang masih bingung karena selalu gagal dan gagal budidaya kroto.

Kondisi kurangnya pasokan kroto ini sebenarnya memberikan kesempatan dan peluang bagi yang belum berhasil ternak kroto. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk mulai melirik usaha ternak jangkrik. Cukup mudah kalau menurut saya budidaya jangkrik itu. Dan telah banyak yang membuktikannya, bahwa ternak jangkrik juga sangat menguntungkan.


Secara hitung-hitungan modal, ternak jangkrik jauh lebih murah ketimbang ternak kroto. Dari bibitnya misalkan, kita dapat memulai budidaya jangkrik dengan modal awal membeli jangkrik Rp. 5.000,- saja, kemudian kita pelihara hingga berbulu. nah ketika jangkrik sudah berbulu, maka siap untuk berkembang biak.

Daur hidup jangkrik lebih cepat dari pada kroto. Kalau kehidupan jangkrik sangat mudah diamati, namun kroto sulit diamati, karena hidupnya bergerombol sangat banyak jumlah anggota koloninya. Semut rangrang hidup bersama antara semut rangrang yang baru menetas hingga semut rangrang yang paling tua dan tidak produktif, sehingga sangat sulit untuk mengamatinya.

Perkembangbiakan jangkrik terlihat jelas dari mulai menetas hingga menjadi jangkrik dewasa. Hal ini karena budidaya jangkrik itu dilakukan terpisah antara indukan dengan anakan. Penetasan jangkrik dilakukan manual oleh peternak, sehingga mudah pengontrolannya.

Jangkrik, mulai menetas hingga siap jual sebagai pakan burung membutuhkan waktu 20-25 hari saja, sedangkan kroto kita tidak tahu. Tahunya hanya jika sudah banyak terlihat kroto di dinding toples maka bisa dipanen.

Jika jangkrik dibudidayakan secara baik, maka kita bisa mengatur kapan kita akan panen? Dan seberapa banyak kita menginginkan panennya?

Asumsi keuntungan jangkrik bisa kita hitung, jika kita menghabiskan pakan ternak jangkrik 1,5 kg, maka kita akan mendapatkan jangkrik siap panen seberat 1 kg. Jika pakan jangkrik (vur ayam aduan 521) harganya Rp. 10.000,- per kg, maka biaya pakan yang dibutuhkan untuk 1 kg jangkrik adalah Rp. 15.000,- Harga jangkrik berkisar antara Rp. 30.000,- hingga Rp. 50.000,- per kg tergantung daerah masing-masing.

Keuntungannya lumayan dari pada ternak kroto gagal melulu bukan?

Selamat mencoba, semoga bermanfaat.
More aboutPasokan Kroto Berkurang Jangkrik Mulai Naik

Budidaya Semut Rangrang untuk Pengendali Hama Alami pada Tanaman Kakao

Posted by Kang Kroto on Monday, November 10, 2014

Budidaya Semut Rangrang untuk Pengendali Hama Alami pada Tanaman Kakao - Semut rangrang sebagai pengendali hama tanaman alami telah banyak diteliti dan diketahui di seluruh dunia. Indonesia juga sudah merakan manfaatnya. Hal ini seperti yang ditulis oleh Tri Wulan Widya Lestari, SP (POPT Ahli Pertama Balai Karantina Pertanian Kelas II Gorontalo). Pada artikel yang berjudul Potensi Pemanfaatan Semut Rangrang (Oecophylla smaradigna) sebagai Musuh Alami pada Pertanaman Kakao.
Artikel ini saya kutip dari http://www.bkpgorontalo.org/?option=detail&id=779

Berikut ini artikel tentang Potensi Pemanfaatan Semut Rangrang (Oecophylla smaradigna) sebagai Musuh Alami pada Pertanaman Kakao.
 
Tanaman Kakao (Theobrema cacao L.) merupakan tumbuhan yang berasal dari Amerika Selatan. Merupakan tumbuhan tahunan berbentuk pohon. Dari biji tumbuhan ini dihasilkan produk olahan yang dikenal sebagai cokelat. Kakao merupakan salah satu tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomis cukup baik dan peluang pasar yang besar. Hal ini dapat dilihat dari permintaan pasar dunia yang cenderung semakin meningkat.

Budidaya Semut Rangrang untuk Pengendali Hama Alami pada Tanaman Kakao

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki areal perkebunan kakao paling luas di dunia dan juga negara penghasil kakao terbesar ketiga setelah pantai gading dan ghana. Tetapi sebagian besar kakao yang dihasilkan adalah kakao curah sekitar 13 %. Perkembangan tanaman kakao semakin luas setiap tahunnya mencapai 8% yang 90% di anataranya adalah perkebunan milik rakyat. Awal masuknya tanaman kakao di Indonesia dimulai pada tahun 1560 di Sulawesi.

Dalam melakukan pembudidayaan tanaman kakao terdapat masalah yang sering dihadapi petani indonesia adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), penurunan tingkat produktivitas, rendahnya kualitas biji kakao yang dihasilkan karena praktek pengelolaan usahatani yang kurang baik maupun sinyal pasar dari rantai tataniaga yang kurang menghargai biji bermutu, tanaman sudah tua, dan pengelolaan sumber daya tanah yang kurang tepat.

Masalah serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) mengakibatkan kehilangan hasil mencapai 30 % setiap tahunnya bahkan ada penyakit penting yang dapat mengakibatkan kematian tanaman sehingga dalam budidaya kakao pada umumnya sekitar 40 % dari biaya produksi dialokasikan untuk biaya pengendalian OPT.

Petani di Indonesia pada umumnya mengendalikan hama pada tanaman kako dengan menggunakan insektisida kimiawi. Penggunaan insektisida kimiawi yang tidak tepat akan membawa dampak yang buruk, lebih merugikan dibanding manfaat yang dihasilkan antara lain dapat menyebabkan timbulnya resistensi hama, munculnya hama sekunder, pencemaran lingkungan dan ditolaknya produk karena masalah residu melebihi ambang batas toleransi. Untuk mengtasi permasalahan tersebut, perlu dilakukan pembenahan cara budidaya tanaman yang berwawasan lingkungan.

Penanganan OPT yang berwawasan lingkungan dilaksanakan dengan menerapkan sistem pengendalian hama terpadu (PHT). PHT merupakan suatu konsep atau paradigma yang dinamis, tidak statis, yang selalu menyesuaikan dengan dinamika ekosistem pertanian dan sistem sosial ekonomi dan budidaya masyarakat setempat. Penggunaan insektisida kimiawi diganti dengan pengendalian yang sederhana, murah, dan ramah lingkungan antara lain dengan penggunaan pestisida nabati dengan memanfaatkan tumbuhan, penggunaan musuh alami seperti parasitoid, predator, dan patogen serangga, serta penggunaan senyawa/bahan penolak serangga.

Pemanfaatan agens hayati atau musuh alami untuk pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) adalah paling efektif digunakan. Salah satu contoh musuh alami untuk pengendalian PBK dan Helopelthis spp. berupa predator adalah semut rangrang (Oecophylla smaradigna).

Semut Rangrang (Oecophylla Smaragdina) termasuk serangga dalam ordo Hymenoptera, family Formicidae. Semut Rangrang ini terkenal karena kemampuanya membuat sarang yang unik di pucuk pohon. Meskipun tidak memiliki sengat, semut rangrang juga terkenal gigitannya yang terasa pedas, karena racun yang dikeluarkanya mampu menyerang saraf. Ukuran tubuh besar memanjang, berwarna coklat kemerahan atau hijau. Semut ini merupakan serangga sosial, hidup dalam suatu masyarakat yang disebut koloni.Terdapat dua spesies semut rangrang yaitu Oecophylla smaragdina yang tersebar di India, Asia Tenggara sampai Australia dan Oecophylla longinoda yang tersebar di benua Afrika.

Sebagai serangga sosial, semut rangrang melakukan semua aktivitasnya secara bersama-sama, antara lain penjelajahan wilayah, pengamanan koloni dari predator dan musuh, pencarian makan, dan pembuatan sarang. Semut rangrang yang bersifat predator dan agresif ini sering digunakan sebagai biokontrol agen pengendali hama pada perkebunan tropis untuk meningkatkan produksi tanaman, seperti yang dilakukan petani mete di Australia dan petani kakao di Vietnam. Selain digunakan sebagai agen pengendali hama, semut rangrang dapat dimanfaatkan langsung sebagai sumber protein dan asam lemak, terutama larva semut yang dapat dimakan langsung. Di beberapa negara, kelezatan semut rangrang mempunyai harga sangat tinggi, dan dipanen dalam jumlah besar, dengan cara ini semut rangrang berkontribusi terhadap sosial ekonomi lokal. Di Thailand Utara harga larva semut rangrang dua kali harga daging sapi berkualitas baik. Selain beberapa manfaat tersebut, semut rangrang juga digunakan sebagai salah satu alat pengobatan medis seperti yang dilakukan di China dan India. Di negara kita, telur dan larva semut rangrang biasa dimanfaatkan sebagai pakan burung kicau.

Hal ini telah menunjukkan bahwa keberadaan semut rangrang dapat memberikan manfaat ganda terhadap lingkungan kita, baik langsung maupun tidak langsung.

Secara alami semut rangrang akan melakukan aktivitas sejak menetas dan mulai mampu berjalan. Tetapi setelah dewasa semut rangrang akan melakukan tugas masing-masing individu dalam koloni berdasarkan fungsi reproduksinya, yang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu semut reproduktif dan semut nonreproduktif.

Dalam kondisi normal, baik lingkungan tempat tinggal sarang, suhu, intensitas cahaya, maupun ketersediaan makanan yang cukup, ratu semut rangrang mampu bertelur 240 s/d 700 butir per hari dalam bentuk gundukan sebesar setengah tetes air, terus-menerus selama 12 bulan sebelum akhirnya mati.

Telur-telur ini akan didistribusikan keseluruh sarang dalam koloni oleh semut pekerja dengan menempelkan setiap telur ke dinding sarang. Dengan mengabsorsi oksigen di udara sekitarnya, kandungan protein dalam telur akan tumbuh menjadi embrio yang dibantu suntikan nutrisi berupa fruktosa oleh semut pekerja sampai menjadi larva dan akan menetas pada hari ke-16.

Kulit bagian luar telur spesies oecophylla tidak berupa cangkang atau kepompong seperti spesies lain, ini dikarenakan semut dewasa memanfaatkanya untuk membuat jaring-jaring sutera pada sarang koloni.

Semut reproduktif terdiri dari ratu dan jantan. Ratu dan jantan memegang peran yang sangat menentukan dalam perkembangbiakan sebuah koloni. Dari ratu akan dihasilkan semua elemen koloni, seperti calon ratu, semut jantan, semut penjaga, maupun semut pekerja. Dibutuhkan kurang lebih 6 bulan terhitung setelah menetas bagi calon ratu untuk dapat mencapai kematangan dalam proses reproduksi.

Selengkapnya bisa dibaca pada http://www.bkpgorontalo.org/?option=detail&id=779

Jangan lupa baca juga:
 
More aboutBudidaya Semut Rangrang untuk Pengendali Hama Alami pada Tanaman Kakao

Pentingnya Membentuk Kelompok Pembudidaya Kroto

Posted by Kang Kroto on Sunday, November 9, 2014

Pentingnya Membentuk Kelompok Pembudidaya Kroto - Selama ini banyak sekali kesulitan melakukan budidaya kroto. Saya saja sudah dua kali mencoba melakukan budidaya kroto modern dan hasilnya juga masih kurang memuaskan. Mungkin salah satu solusinya adalah dengan membentuk Kelompok Pembudidaya Kroto atau KPK.

Ini merupakan harapan saya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya (internet). Jika kita bisa membentuk KPK, maka segala kesulitan tentang teknik budidaya kroto akan segera teratasi. Namun sayangnya, lagi-lagi, mereka yang telah sukses masih enggan membagikan ilmu tentang budidaya kroto secara gratis.

Pada kenyataannya, banyak sekali dari mereka yang telah sukses hanya mau berbagi dalam bentuk buku atau CD panduan budidaya kroto yang mahal harganya. Meskipun kita telah membeli buku atau CD panduan budidaya kroto, namun pada prakteknya kita tetap mengalami kendala, karena kita hanya dipandu secara tidak langsung yang mengalami kesulitan jika ingin bertanya.

Pentingnya Membentuk Kelompok Pembudidaya Kroto

Hal tersebut menjadi sebuah tantangan bagi kita yang ingin sukses dalam budidaya kroto. Dengan membentuk KPK, diharapkan kita akan dapat:
  1. Belajar bersama teknik dan ilmu budidaya kroto yang benar.
  2. Membahas segala macam permasalahan budidaya kroto.
  3. Mendapat bantuan penyuluhan dari pemerintah tentang bagaimana budidaya kroto yang baik dan benar agar menghasilkan.
  4. Yang lebih penting lagi untuk mendapat bantuan permodalan dari pemerintah, karena modal budidaya kroto sangat besar mengingat harga bibit kroto yang dijual di pasaran, baik offline maupun online sangat mahal yang hingga mencapai Rp. 50.000,- per toples bekas jajanan sosis.
Jika kita bisa membentuk KPK dan bisa melakukan budidaya kroto secara baik dan benar, maka paling tidak sudah bisa mengurangi beban pemerintah tentang pengangguran.

Selama ini saya sering mengajak tetangga, teman, saudara, dan para petani untuk melakukan budidaya kroto, namun jawaban mereka tidak mau, karena dirasa masih sangat sulit melakukannya meskipun sebenarnya mereka sangat ingin menjalankan budidaya kroto ini karena harganya yang sangat mahal.

Oleh karena itu, melalui blog http://budidayakrotos.blogspot.com ini, saya mengajak para pembaca dan pengunjung sekalian, mari kita bentuk KPK baik di dunia maya maupun di dunia nyata untuk meraih kesuksesan bersama dalam budidaya kroto.

Jangan lupa baca juga:

More aboutPentingnya Membentuk Kelompok Pembudidaya Kroto

Beberapa Penelitian Tentang Semut Rangrang sebagai Pengendali Hama Alami

Posted by Kang Kroto on Saturday, November 8, 2014

Beberapa Penelitian Tentang Semut Rangrang sebagai Pengendali Hama Alami - Penelitian tentang potensi semut rangrang sebagai pengendali hama tanaman atau musuh alami hama sudah dilakukan cukup lama. Huang dan Yang (1987) menuliskan bahwa semut rangrang sudah dikenal oleh bangsa China pada tahun 304 Masehi untuk mengendalikan hama kutu-kutuan pada tanaman jeruk. Perilaku agresif semut rangrang dalam mempertahankan daerah kekuasaannya barangkali menjadi salah satu pertimbangan bagi para petani untuk menggunakannya sebagai “penjaga” tanaman terhadap gangguan hama. Kajian Van Mele di Vietnam (Van Mele & Truyen, 2002) membuktikan bahwa penerapan teknologi pengelolaan O. Smaragdina yang tepat di lapangan, mampu meningkatkan potensi mereka sebagai musuh alami.

Way dan Khoo (1992) menyebutkan bahwa semut rangrang menjadi musuh alami pada sekitar 16 spesies hama yang menyerang spesies tanaman, yaitu kakao, kelapa, kelapa sawit, mangga, eukaliptus, dan jeruk. Bersama dengan kerabatnya, yaitu O. Longinoda, O. Smaragdina melindungi tanaman-tanaman tersebut dari serangan hama.Penelitian lain juga membuktikan bahwa semut rangrang menjadi musuh alami hama pada tanaman lada hitam dan mahoni. Misalnya, Offenberg et al (2006) memperlihatkan bahwa semut rangrang mampu melindungi tanaman mangrove dari serangan kepiting Episesarma versicolor.

Beberapa Penelitian Tentang Semut Rangrang sebagai Pengendali Hama Alami

Manfaat semut rangrang untuk tanaman telah dikenal di banyak negara.Demikian pula, petani-petani di Delta Mekong (Vietnam) dan di Kalimantan Timur (Indonesia) mempunyai pengalaman mengenai bagaimana semut rangrang dapat meningkatkan kualitas buah. Buah yang dihasilkan menjadi lebih menarik dan lebih segar. Jika diamati dengan seksama, semut rangrang dapat mengganggu, menghalangi atau memangsa berbagai jenis hama seperti kepik hijau, ulat pemakan daun, dan serangga-serangga pemakan buah. Populasi semut rangrang yang tinggi dapat mengurangi permasalahan hama tungau, pengorok daun dan penyakit greening pada kebun jeruk. Semut rangrang diketahui juga dapat melindungi eucalyptus dan pohon-pohon kayu lainnya. Semut ini dapat mengendalikan sebagian besar hama pada tanaman jeruk dan mete, melindungi tanaman kelapa dan kakao dari serangan kepik, sehingga meningkatkan mutu dan jumlah hasil panen. Semut rangrang juga dapat menghalangi serangan tikus.

Tentu saja hal ini sangat menarik. Di tengah kondisi pertanian kita yang kurang mendapat dukungan ekosistem yang sehat, usaha pemanfaatan semut rangrang bisa menjadi alternatif pengendalian hama dan penyakit tanaman. Dengan semut rangrang kita bisa menghindari penggunaan pestisida yang berarti ada penghematan biaya usaha tani sekaligus juga menjaga kesehatan lingkungan.

Jangan lupa baca juga:
 
More aboutBeberapa Penelitian Tentang Semut Rangrang sebagai Pengendali Hama Alami

Siap Siap Musim Hujan Tiba Harga Kroto Melambung

Posted by Kang Kroto on Friday, November 7, 2014

Siap Siap Musim Hujan Tiba Harga Kroto Melambung - Telah lama orang mengetahui bahwa harga kroto sangat mahal. Salah satu penyebab mahalnya harga kroto adalah datangnya musim penghujan. Karena pada saat musim hujan para pencari kroto mengalami kesulitan untuk mendapatkan kroto dari alam.

Para penjual kroto di pasar, biasanya mengandalkan para pencari kroto di alam karena belum banyak orang yang bisa melakukan budidaya kroto. Jika musim kemarau, pasokan kroto lancar meskipun jumlahnya belum bisa memenuhi permintaan.

Seperti misalnya di Pekalongan, kemarin ketika saya pulang ke Pekalongan, tepatnya di Desa Mrican Kecamatan Sragi Kabupaten Pekalongan. Di sana ada seorang pecinta burung ocehan yang sekali gus penjual kroto dan merangkap juga sebagai pencari kroto di alam. Sebut saja namanya Pak Kardi.

Menurut cerita adik saya Sito, Pak Kardi adalah penjual burung ocehan yang sukses, kesuksesannya bukan datang dari hasil berjualan burung ocehan saja melainkan dari menjual pakannya juga, yaitu kroto, ditambah lagi, hebatnya krotonya itu ia dapatkan sendiri langsung dari alam.

Siap Siap Musim Hujan Tiba Harga Kroto Melambung

Padahal ketika di sana, saya berusaha mencari sarang semut rangrang di sekitar desa saya, namun nihil hasilnya nol besar, tidak satupun sarang saya temukan. Lho Koq bisa Pak Kardi mendapatkan kroto, bahkan bisa sampai 2 kg perhari?

Pak Kardi mendapatkan kroto dari tempat yang jauh, yaitu di daerah gunung di hutan. Di sana ia memiliki tempat rahasia yang orang lain tidak boleh tahu sebagai sumber sarang semut rangrang.

Menurut ceritanya, ia memiliki 7 lokasi berbeda yang banyak terdapt sarang semut rangrang sehingga ia dapat memanennya setiap hari bergantian.

Kalau di musim kemarau saja keuntungannya dari menjual kroto sangat banyak, Rp. 20.000,- per ons, bagaimana nanti kalau musim penghujan, bisa saja sampai Rp. 30.000,- per kg.

Baca juga:

Hebat Pak Kardi, namun sayangnya belum dibudidayakan semut rangrang tersebut, sehingga lama-lama akan musnah juga di alam jika setiap hari diambil telurnya. Kan akhirnya tidak bisa menetas untuk meneruskan keturunannya.

Jika semut rangrang musnah karena perburuan liar, maka akibatnya hama tanaman semakin meraja lela yang bisa dibaca pada:

More aboutSiap Siap Musim Hujan Tiba Harga Kroto Melambung

Keraguan Apakah Benar Budidaya Kroto Bisa Dijadikan Sumber Penghasilan?

Posted by Kang Kroto on Thursday, November 6, 2014

Keraguan Apakah Benar Budidaya Kroto Bisa Dijadikan Sumber Penghasilan? - Pertanyaan sebenarnya bukan bisa apa tidak kroto dijadikan sumber penghasilan, karena jawabannya tentu saja sangat bisa, namun yang menjadi kendala, adalah bisakah kita membudidayakannya? Karena budidaya kroto sangat sulit dilakukan jika kita belum mengetahui cara dan ilmunya. Salah satu kendalanya adalah bibit kroto.

Sekarang ini sangat sulit untuk menemukan sarang kroto di perkebunan. Karena sekarang pemberantasan hama dengan pestisida lebih banyak digunakan, sehingga bukan saja hama yang mati tetapi banyak serangga lain yang berguna turut terbunuh yang salah satunya adalah semut rangrang.

Perburuan liar yang dilakukan manusia terhadap semut rangrang untuk diambil krotonya. Banyak orang mengambil sarang-sarang mereka untuk mendapatkan kroto sebagai pakan burung peliharaan. Hal ini menyebabkan semakin berkurangnya populasi semut rangrang di alam. Padahal keberadaan semut ini penting sebagai musuh alami serangga hama, sekaligus sebagai indikator biologis (hayati) terhadap kualitas udara di suatu daerah.

Keraguan Apakah Benar Budidaya Kroto Bisa Dijadikan Sumber Penghasilan?
 
Meskipun gigitannya cukup menyakitkan, semut ini terbukti mampu menjadi sumber penghasilan yang cukup menjanjikan. Pengamatan Cesard (2004) di Malingping, Jawa Barat menunjukkan bahwa larva dan pupa semut rangrang yang disebut kroto, dapat dipanen dan dijual sebagai pakan burung atau umpan pancing. Di beberapa tempat lain di Jawa, bisnis kroto ini dianggap sebagai bisnis yang sangat menguntungkan. Kroto adalah nama yang diberikan orang Jawa untuk campuran larva dan pupa semut penganyam Asia terutama Oecophylla smaragdina.

Campuran ini terkenal di kalangan pencinta burung dan nelayan di Indonesia, karena larva semut populer sebagai umpan ikan, dan juga sebagai makanan tambahan untuk meningkatkan ketrampilan burung-burung pedendang. Para penggemar burung membeli kroto yang kaya protein dan vitamin untuk burung peliharaannya, demi kepuasan mereka mendengarkan kicauan burung yang merdu, atau waktu mereka menyiapkan burung-burungnya untuk mengikuti lomba burung pedendang.

Baca juga:

Manfaat Ekonomi Kroto sangat menggiurkan. Selama ini pasokan pasar burung atau toko yang menjual pakan burung hanya menggantungkan dari pengumpul kroto yang berasal dari tangkapan alam. Kita tahu alam tidak setiap saat menyediakan kroto apalagi saat musim penghujan.

Kehidupan semut rangrang memang identik dengan kehidupan masyarakat perdesaan. Bagi sebagian orang, kroto dari semut rangrang merupakan sumber penghasilan baru dan dianggap sebagai salah satu cara bagi masyarakat miskin untuk memperoleh penghasilan tambahan. Sebuah penghasilan yang bisa diperoleh secara cuma-cuma dan tanpa mengganggu waktu dan kegiatan bertani mereka.

Dengan cara yang praktis dan mudah saja mereka bisa mendapatkan kroto semut rangrang tersebut. Di Thailand, bisnis kroto ini menjadi bisnis sampingan bagi petani. Menurut Sribandit et al (2008), pendapatan petani dari bisnis ini mencapai 12,1 dollar Amerika per hari selama empat sampai lima bulan musim panen semut. Angka ini menjadikan bisnis ini menyumbangkan 30 persen dari total pendapatan petani pemanen kroto.

Jangan lupa baca juga:

More aboutKeraguan Apakah Benar Budidaya Kroto Bisa Dijadikan Sumber Penghasilan?

Mana Saja Daerah Penghasil Kroto di Indonesia?

Posted by Kang Kroto on Wednesday, November 5, 2014

Mana Saja Daerah Penghasil Kroto di Indonesia? - Kroto adalah jenis pakan tambahan untuk burung ocehan baik sebagai burung hobi maupun untuk burung kontes. Sayangnya sekarang ini keberadaannya di alam sudah semakin menipis, bahkan dikhawatirkan akan punah. Seperti misalnya di daerah saya sendiri Kebumen, sekarang ini sudah sangat sulit menemukan sarang semut rangrang di alam.

Di beberapa daerah masih banyak sarang kroto, namun keberadaannya juga terancam punah karena perburuan liar. Mengapa perburuan liar, alasannya adalah karena harga kroto sangat tinggi sebagai pakan burung ocehan.

Seperti di Pekalongan, yang dulu merupakan daerah kantung sarang semut rangrang sekarang ini juga sangat sulit di temukan. Dulu pepohonan di pedesaan sangat mudah ditemukan sarang semut rangrang, namun sekarang, jika ingin melihat sarang semut rangrang kita harus pergi ke hutan di pegunungan.

Perburuan kroto secara besar-besaran ini diakibatkan oleh semakin banyaknya pecinta burung kicauan, dari mulai pedesaan hingga sampai perkotaan. Diyakini kroto merupakan pakan tambahan terbaik untuk burung ocehan. Sebenarnya banyak jenis pakan tambahan lainnya, seperti misalnya ulat hongkong dan jangkrik, namun nilai gizi dan protein kroto jauh lebih tinggi dibanding ulat hongkong dan jangkrik. Di samping itu, kroto masih sangat sulit dibudidayakan, berbeda dengan ulat hongkong dan jangkrik.

Mana Saja Daerah Penghasil Kroto di Indonesia?

Permintaan pasar akan kroto yang sangat tinggi di Indonesia belum terpenuhi, karena selama ini hanya mengandalkan kroto dari alam yang semakin menurun jumlahnya.

Jangankan kota-kota besar, sedang di pedesaan saja saat ini permintaan kroto sangat tinggi. Peluang pasar kroto yang sangat bagus di antaranya di daerah Jakarta dan Provinsi Jawa Barat karena di daerah tersebut permintaan kroto sangat tinggi dan baru 50 persen saja yang terpenuhi. Woow, peluang yang sangat bagus jika kita bisa memproduksi kroto karena banyak manfaatnya.

Untuk mengetahui salah satu manfaat kroto bisa di baca pada:

Sementara ini pasokan kroto ke Jakarta berasal dari daerah yang cukup jauh yang masih banyak terdapat sarang semut rangrang, yaitu misalnya Bali dan Lombok.

Sebenarnya masih ada beberapa daerah yang menjadi sumber kroto di Indonesia, namun daerah tersebut sangat jauh, ini menjadi kendala karena kroto tidak tahan lama. Daerah tersebut di antaranya adalah Kalimantan, Sumbawa, Lombok, dan Bali.

Sebenarnya jika kita bisa melakukan budidaya kroto secara besar-besaran, kita akan sangat diuntungkan, karena bukan pasar di Indonesia saja yang kekurangan kroto, namun pasar luar negeri juga masih membutuhkan kroto dalam jumlah yang sangat banyak, misalnya di Negara Malaysia. Kalimantan bisanya memasarkan krotonya ke Malaysia.

Harapan ke depan, pemerintah segera melirik peluang usaha budidaya kroto, karena bisa menciptakan lapangan kerja baru yang memiliki prospek cerah.

Jangan lupa baca juga:

More aboutMana Saja Daerah Penghasil Kroto di Indonesia?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...