10 Hal yang Membuat Prospek Budidaya Kroto sangat Menguntungkan

Posted by Kang Kroto on Wednesday, October 29, 2014

10 Hal yang Membuat Prospek Budidaya Kroto sangat Menguntungkan - Kroto merupakan pakan burung yang sangat disenangi oleh pecinta burung ocehan karena nilai proteinnya yang sangat tinggi yang bermanfaat untuk meningkatkan performa burung dalam berkicau.

Alasan di atas sangat masuk akan sehingga terbukanya peluang bisnis yang sangat menjanjikan, yaitu budiaya kroto atau ternak kroto.

Berikut ini 10 Hal yang Membuat Prospek Budidaya Kroto sangat Menguntungkan:
  1. Kondisi alam Indonesia sangat cocok untuk berkembanganya semut rangrang, hal ini karena Indonesia memiliki iklim tropis yang sangat mendukung kehidupan semut rangrang dalam berkembang biak.
  2. Permintaan pasar akan kroto segar sangat tinggi, sementara pasokan dari alam sangat kurang karena habitatnya yang semakin punah.
  3. Budidaya kroto masih sangat sulit dilakukan, karena belum ada panduan budidayanya yang benar, secara jelas dan rinci. Mereka yang telah berhasil enggan membagikan ilmunya. Selengkapnya bisa dibaca pada: Benarkah Budidaya Kroto Saat Ini Sulit Dilakukan?
  4. Persaingan budidaya kroto masih sangat rendah karena belum banyak peternak yang berhasil dalam budidaya kroto.
  5. Budidaya kroto tidak memerlukan tempat yang luas. Perawatannya juga tidak terlalu rumit. Hama dan Penyakit terbilang tidak ada. Modal juga bisa sangat kecil jika kita mau mencari bibit kroto di alam langsung.
  6. Para pecinta burung ocehan kian hari kian banyak yang imbasnya membutuhkan kroto dalam jumlah yang besar sebagai pakan burung ocehan yang berkualitas.
  7. Indonesia memiliki hari-hari tertentu di mana kroto menjadi sangat langka, bahkan tidak ada, yaitu ketika hari besar agama tiba, maka harga kroto menjadi sangat mahal, karena para pencari kroto di alam libur, sementara burung harus tetap diberi makan kroto.
  8. Pemerintah sudah mulai memperhatikan budidaya kroto, seperti misalnya yang dilakukan oleh peternak kroto dari Bangka yang selengkapnya bisa di baca pada: Kisah Sukses Budidaya Kroto Kelompok Usaha Produktif Bangkit Lagi di Bangka
  9. Dengan budidaya kroto semi alam, kita juga bisa memanfaatkan kroto sebagai pembasmi hama tanaman buah.
  10. Hal yang sangat menggiurkan pada prospek budidaya kroto adalah harganya yang sangat mahal hingga mencapai Rp. 250.000,- per kg pada hari-hari tertentu.
Jangan lupa baca juga: Inilah 10 Pertanyaan Orang yang Akan Memulai Budidaya Kroto

More about10 Hal yang Membuat Prospek Budidaya Kroto sangat Menguntungkan

Jenis Burung yang Terancam Punah dan Anis Punggung Merah Penemuan Baru di Buton

Posted by Kang Kroto

Jenis Burung yang Terancam Punah dan Anis Punggung Merah Penemuan Baru di Buton - Hasil pengamatan Tim Survey Operation Wallacea, berdasarkan kategori IUCN terdapat 5 jenis burung terancam punah (threatened) dan 13 jenis burung hampir terancam punah (near-threatened). Dari seluruh jenis tersebut, salah satu yang menarik perhatian pengamat burung adalah maleo senkawor (Macrocephalon maleo).  Burung ini hidup di SM Buton Utara dan memiliki beberapa keunikan.  Saat berkembang biak, maleo menyimpan telurnya pada pasir yang sudah digali.

Maleo termasuk jenis burung precocial dimana  saat embrio (dalam telur) mengalami pertumbuhan pesat.  Saat menetas anak langsung keluar mencari makan dan berjalan sendiri tanpa dipelihara induknya. Pengamat burung sering bersabar, menunggu hingga berjam-jam mengintip kejadian burung saat itu.  Hal tersebut telah menjadi pengalaman yang menakjubkan bagi mereka, terutama karena perilaku maleo dan bentuk tubuhnya sangat unik.  Perilakunya sering menggali tanah di saat musim berbiak, bagian kepalanya menjendul dibelakang, dan kakinya yang besar (megapode). Selain itu, marga maleo termasuk endemik Sulawesi, statusnya terancam punah, dan dilindungi undang-undang Republik Indonesia.

Hutan Lambusango di Pulau Buton Sulawesi Tenggara

Hutan lambusango telah dijadikan tempat ideal bagi para pengamat burung jika ingin melakukan studi lebih terukur khususnya tentang studi populasi.  Di Hutan Lambusango telah tersedia 6 buah blok transek sepanjang 4 x 3 Km. Di masing-masing transek para pengamat burung biasanya melakukan studi populasi burung dengan menggunakan titik hitung (point count). Di dalam hutan, sangat sulit untuk melihat burung-burung karena tertutup oleh kanopi pohon yang rapat. Dalam konsisi ini, biasanya para pengamat burung lebih mengutamankan identifikasi burung dengan menggunakan suara. Berdasarkan hasil pengamatan, beberapa jenis burung endemik yang umum dijumpai di Hutan Lambusango relatif banyak, diantaranya : pelanduk Sulawesi (Trichastoma celebense), bubut Sulawesi (Centropus celebensis), pelatuk-kelabu Sulawesi (Mulleripicus fulvus), dsb. Burung-burung tersebut semuanya termasuk burung yang sering bersuara. Berawal dengan membedakan jenis burung tersebut melalui suara, para pengamat pemula bisa melakukan latihan membedakan jenis-jenis burung di Pulau Buton dan sekitarnya melalui suara.

Burung Penemuan Baru di Pulau Buton Sulawesi Tenggara

Kawasan wallacea menurut beberapa ahli merupakan kawasan yang masih sedikit diteliti oleh para ilmuwan.  Sampai saat ini masih terbuka bagi para ilmuwan untuk menemukan jenis-jenis atau sub jenis baru.  Para pengamat burung akan memperoleh kesempatan berharga, bersama para ilmuwan menemukan beberapa jenis atau sub jenis baru di kawasan ini. Pengalam untuk menemukan hal-hal baru ini tentu akan menjadi sesuatu hal yang istimewa.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun (1995 – 2005), telah ditemukan 1 sub jenis burung baru, anis punggung-merah/ Kabaena Trush (Zoothera erythronota kabaena subsp.nov.). Penemuan ini telah dipublikasikan oleh Dean dkk. (2002) dalam jurnal Forktail 18. Satu lagi penemuan baru adalah ditemukannya kemungkinan sub jenis atau jenis baru burung kacamata di Wangi-wangi. Burung ini memiliki perbedaan signifikan dengan burung kacamata laut atau kacamata Sulawesi yang tercatat dalam buku panduan lapangan Coates dan Bishop (1997). Dalam buku tersebut dideskripsikan bahwa Kacamata laut dan Kacamata Sulawesi yang terdapat di Sulawesi Tenggara paruhnya berwarna hitam. Kacamata yang baru ditemukan di Wangi-wangi ini memiliki paruh berwarna kuning, ukuran paruh dan kepalanya agak besar. Namun demikian, untuk memastikan apakah burung tersebut termasuk jenis atau sub jenis baru perlu studi mendalam. Perlu dilakukan analisis DNA dan menangkap beberapa sampel burung untuk disimpan di museum.

Sumber: Pulau Buton sebagai Surga bagi Para Pengamat Burung Oleh : Henry Ali Singer
More aboutJenis Burung yang Terancam Punah dan Anis Punggung Merah Penemuan Baru di Buton

63 Jenis Burung Endemik di Pulau Buton Wallacea Sulawesi Tenggara

Posted by Kang Kroto

63 Jenis Burung Endemik di Pulau Buton Wallacea Sulawesi Tenggara - Pengamat burung di dunia sangat banyak sekali yang tergabung dalam beberapa klub dan organisasi pecinta burung. Di Inggris terdapat sekitar 2 juta orang lebih yang masuk sebagai anggota pecinta burung (RSPB).  Para pengamat burung sering berkeliling dunia untuk “berburu burung” di alam dengan cara mengamati dan mencatat berbagai jenis burung liar di habitat aslinya.  Mereka merasa senang seandainya bisa melihat jenis-jenis burung baru di suatu tempat untuk dicatatkan dalam buku hariannya.

Pulau buton menawarkan hal tersebut bagi para pengamat burung dunia. Di pulau Buton dan sekitarnya terdapat 63 jenis burung endemik. Dengan demikian, pengamat burung akan disuguhi oleh 63 jenis burung baru yang tidak bisa mereka lihat di negara lain. Hal ini tentu sangat menyenangkan bagi mereka, karena bisa mereka menambah daftar jenis burung baru di habitat aslinya.

Sebagian besar burung endemik Pulau Buton dan sekitarnya hidup di dalam atau berbatasan dengan hutan. Di wilayah Buton, Kabaena, dan Wakatobi tidak ada jenis burung laut yang tergolong endemik. Burung laut umumnya memiliki daerah jelajah tinggi, bahkan banyak di antaranya sering bermigrasi jauh sampai ke negara lain. Oleh karena itu, sebagian besar burung laut tidak dimasukkan dalam daftar endemik.  Burung-burung yang hidup di hutan, sebagian besar daerah jelajahnya lebih kecil.  Sebagian besar burung-burung hutan di Pulau Buton tidak menyebrang ke pulau lain seperti Kabaena atau Wakatobi. Karena lebih banyak kemungkinan menemukan burung endemik di Pulau Buton, para pengamat burung akan senang untuk tinggal lebih lama di pulau ini.

 Daratan pulau Buton masih ditumbuhi oleh hampir setengahnya (45%) hutan alam.   Di daerah hutan ini biasanya pengamat burung dimanjakan oleh burung endemik. Apalagi, hutan Pulau Buton dikenal sebagai hutan yang vegetasinya “miskin” sehingga terlihat tidak terlalu rapat. Seorang pengamat burung bisa melihat burung pada ke dalaman hutan yang agak jauh. Beberapa jenis burung endemik seperti:
  1. burung kaca mata Sulawesi
  2. cabai panggul-kelabu (Dicaeum celebicum)
  3. bilbong pendeta (Streptocitta albicolis)
  4. julang Sulawesi (Aceros cassidix)
  5. burung jalak tunggir-merah (Scissirostrum dubium)
Di desa-desa yang berbatasan dengan hutan dapat dilihat ratusan burung jalak tunggir-merah (Scissirostrum dubium), yang marganya tergolong endemik Sulawesi sangat sering dijumpai terbang, mencari makan dan membuat sarang pada pohon bersama ( flocking) sering terlihat dipinggir hutan.
 
Penulis: Henry Ali Singer
More about63 Jenis Burung Endemik di Pulau Buton Wallacea Sulawesi Tenggara

10 Cara Pemberian Kroto sebagai Pakan Burung Ocehan yang Harus Kita ketahui

Posted by Kang Kroto

10 Cara Pemberian Kroto sebagai Pakan Burung Ocehan yang Harus Kita ketahui - Kroto adalah pakan burung ocehan yang sangat baik dan berkualitas karena mengandung protein yang sangat tinggi, hingga 48%. Tingginya protein kroto terbukti mampu menjaga dan meningkatkan vitalitas burung sehingga dapat menghasilkan bunyi yang merdu, nyaring, kuat, dan utamanya konsisten.

Namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemberian kroto sebagai pakan burung ocehan, yaitu:
  1. Kita harus mengetahui kebiasaan burung sejak kecil, apakah sudah terbiasa diberi makan kroto apa tidak?
  2. Jika sejak kecil burung telah terbiasa makan kroto, maka tidak ada masalah, namun jika tidak terbiasa, maka burung bisa kaget dan mogok makan, bahkan buruknya lagi bisa berhenti ngoceh.
  3. Porsi kroto sebagai pakan burung harus pas, jangan berlebih atau kurang dan harus rutin terjadwal.
  4. Pemberian pakan kroto dilakukan 2 kali dalam seminggu, yaitu pada pagi hari pukul 07.30 dan sore hari pukul 15.30.
  5. Pemberian kroto sebaiknya setelah burung diangin-anginkan dan setelah sangkar dibersihkan dari kotoran.
  6. Jika burung akan mengikuti kontes, maka frekwensi pemberian kroto bisa ditingkatkan menjadi 4 kali dalam seminggu.
  7. Para kicau mania memiliki kiat sendiri-sendiri dalam pemberian kroto pada burungnya, bahkan ada yang memberikan kroto setiap hari, itu bergantung pada kebiasaan burung itu sendiri dalam makan kroto.
  8. Pemberian kroto hendaknya dilakukan dengan hati-hati, yaitu usahakan semut rangrang tidak terbawa atau termakan burung, karena semut rangrang memiliki zat feromon yang baunya sangat menyengat dan menimbulkan efek getir dan panas jika termakan burung yang dapat mengganggu pita suara burung.
  9. Jumlah kroto yang diberikan pada burung tergantung kebiasaan sejak kecil. Ada beberapa orang yang hanya memberikan 5 hingga 10 butir saja setiap kali memberikan pakan. Juga ada yang 1 sendok teh.
  10. Pemberian kroto sebagai pakan burung ocehan harus diawasi dengan teliti, karena kroto memiliki protein yang sangat tinggi, dikhawatirkan akan terjadi kelebihan nutrisi pada burung jika porsinya kebanyakan.
More about10 Cara Pemberian Kroto sebagai Pakan Burung Ocehan yang Harus Kita ketahui

Maleo Burung Pengicau yang Dilindungi dari Pulau Buton

Posted by Kang Kroto

Maleo Burung Pengicau yang Dilindungi dari Pulau Buton - SEJARAH ASAL MULA ADANYA BURUNG MALEO DI PULAU BUTON YANG SAAT INI MERUPAKAN SATWA YANG DILINDUNGI OLEH PEMERINTAH
Oleh: Raden Muhammad Hoesein Hambari

LATAR BELAKANG
Burung Maleo di Pulau Buton dibawah oleh Muhammad Ali Idrus Putera Raja Aden yang menikah dengan Puteri Raja Pasai yang bernama Sultan Ahmad I atau ayah kandungnya berasal dari Sultan Brunei Pertama yang bernama Sultan Sulaiman Syarif Ali yang dinobatkan pada tahun 1298 Masehi.
Muhammad Ali Idrus ini bersepupu dengan Musarafatul Izzati Al Fakhriy Puteri tunggal Abdullah Badiy Uz Zamani dari Yatsrib-Madinah-Arabia dari keturunan Baginda Sayidina Ali Bin Abithalib. Menjelang dewasa ayah Al Fakhriy atau di Buton dikenal dengan nama Wa Kaa Kaa sebagai Raja Buton Ke-I tahun 1311-1332 Masehi.

Timbul pertanyaan : mengapa Al Fakhriy dari Madinah dan Muhammad Ali Idrus dari Pasai sampai di Pulau Buton ?

Sejarahnya sebagai berikut:

Muhammad Ali Idrus yang kawin dengan Puteri Raja Pasai itu mendengar berita bahwa pamannya bernama Abdullah Badiy Uz Zamani di Yatsrib Madinah telah meninggal dunia sehingga ia berangkat ke Madinah untuk ziarah kubur sekalian akan membawa sepupunya Al Fakhriy. Sesampainya di Madinah, Muhammad Ali Idrus berziarah dan mendengar cerita bahwa sepupunya yang telah ditinggal ayahnya itu pernah dia dilamar oleh Putera Raja Persia bernama Baidul Hasan tetapi dia tidak mau. Lantas untuk menghindari lamaran berikutnya oleh Putera Raja Persia itu dia setuju untuk ikut ke Pasai bersama Muhammad Ali Idrus. Tetapi rupanya hal ini diketahui oleh Putera Raja Persia bahwa Al Fakhriy itu akan ikut sepupunya ke Pasai, sehingga dia dilamar lagi yang kedua kalinya, namun Al Fakhriy tetap menolak halus lamaran tersebut dengan alas an bahwa dia belum ada niat untuk berkeluarga. Waktu itu Muhammad Ali Idrus sedang ke Johor pergi mengawinkan anak tunggalnya bernama Sulaiman Syarif Ali. Di Johor Muhammad Ali Idrus bertemu dengan Panglima mongol bernama Khun Khan Ching yang ketika itu sedang diperintah oleh Kaisar Mongol yang bernama Khubilai Khan. (baik Kaisar Tiongkok dan Khun khan Ching disebut Cina islam dari Hoe-Hoe daerah tar-tar dengan gelar Dung Kung Sang Hiang dan di Buton dikenal dengan nama Dungku Cangia). Khun Khan Ching atau Dungku Cangia lari berlindung ke Johor karena telah kalah perang waktu dia diperintah oleh kaisarnya meyerang Kerajaan Mojopahit di Jawa Timur).

Dalam buku sejarah Wali Songo, diceritakan pasukan Tar-Tar dari Mongol itu menang waktu menyerang Kerajaan Singosari. Namun sekembalinya dari peperangan pasukan tersebut melewati Sungai Berantas lantas digempur habis-habisan oleh pasukan raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit, sehingga pasukan Tar-tar tersebut lari kocar-kacir dan banyak yang meninggal dan Panglimanya bernama Khun Khan Ching menyelematkan diri lari ke Johor.

Muhammad Ali Idrus disamping bertemu dengan Khun Khan Ching di Johor, juga bertemu dengan seorang relawan bernama Sang Ria Rana, kemudian setelah acara pernikahan Puteranya di Johor selesai, kedua sahabatnya itu diajaknya ke Pasai dan merekapun setuju. Sesampainya di pasai sepupunya Muhammad Ali Idrus bernama Al Fakhriy menyampaikan bahwa ada utusan Raja Persia untuk melamarkan anaknya dengan dia tetapi Al Fakhriy menolaknya dengan halus dan kemudian Raja Persia itupun menjadi marah dan mengancam akan mengambil paksa Al Fakhriy ke Pasai. Akhirnya Al Fakhriy mengajak sepupunya Muhammad Ali idrus untuk keluar dari Pasai dan Muhammad Ali Idrus pun berunding dengan kedua sahabatnya itu dan sepakat akan keluar meninggalkan Pasai dengan mengendarai sebuah kapal yang bernama Magela Hein’s. Perjalananpun tak tentu arah menuju wilayah timur dan akhirnya terdampar di Pulau Buton tepatnya di Sorawolio.

Setelah tiba di Sorawolio, mereka berempat berpisah; Khun Khan Ching dan Sang Ria Rana menuju ke Tobe-Tobe Buton, sedang sepupunya Muhammad Ali idrus menuju ke Maligano Buton untuk membawa Burung Maleo atau dalam bahasa buton dikenal dengan nama Burung Mamua. Burung ini dibawanya dari Palembang ketika saat mengunjungi anaknya bernama Sayid Lillah yang berasal dari anak pada istri keduanya bernama Embo Endang. Ternyata sehabis melepas Burung Maleo di Maligano Buton Utara, Muhammad Ali Idrus kawin disana dengan Puteri Sangia Pure-Pure bernama Wa Birah. Dari hasil perkawinan Muhammad Ali Idrus dengan Wa Birah dikarunia seorang Puteri bernama Wa Nambo Yitonto atau nama gelar Wa Sala Bose. Pada waktu itu di Maligano Muhammad Ali idrus diberi gelar Lakina Maligano yang saat ini berdasarkan sejarah ini telah diabadikan menjadi Desa Maligano, Ronta Kabupaten Muna.

Sedangkan sepupunya bernama Al Fakhriy yang tinggal di Sorawolio dia bertapa selama 13 tahun lamanya didalam rumpun bambu tolang dan setelah 13 tahun ia bertapa lantas diketemukan oleh dua sahabatnya bernama Khun Khan Ching atau Dung Kung Sang Hiang dan Sang Ria Rana, dimana ketika itu tanpa sengaja kedua sahabatnya sedang mencari bambu tolang untuk mau dijadikan perangkat bubu penangkap ikan di laut. Pada saat sebelum diketemukan Al Fakhriy dalam rumpun bambu tolang tersebut, anjing yang dibawah oleh Sang Ria Rana menggonggong karena melihat sesuatu didalam rumpun bambu tolang tersebut namun kedua sahabatnya tersebut tetap dia menebas bambu tersebut dan mengenai rambut Al Fakhriy yang sedang bertapa sampai kedengaran suara Kaa Kaa karena Puteri Al Fakhriy rambutnya sedikit kena sobekan parang. Berdasarkan penemuan inilah dan teriakan inilah kedua sahabatnya memberi nama Al Fakhriy sebagai Wa Kaa Kaa dan diapun ketika itu menjadi perempuan sakti mandraguna setalah melalui pertapaan selama 13 tahun lamanya itu.

Kesaktian perempuan bernama Wa Kaa Kaa inipun gaunya melebar kemana-mana hingga didengar oleh 4 (empat) orang penguasa Buton juga mereka sakti yakni Si Panjonga yang berkuasa di Tobe-Tobe, Si Malui yang berkuasa di Kamaru, Si Jawangkati yang berkuasa di Wasuemba dan Si Tamanajo yang berkuasa di Gunung Lambelu yang dikenal dengan gunung Kamasope.
Si Panjonga dan Si Tamanajo berasal dari Melayu-Pasai, sedangkan Si Malui dan Si Jawangkati berasal dari Pariaman Sumatera Barat. Mereka berempat adalah orang orang sakti mandraguna keturunan para wali allah datang ke Pulau Buton atas petunjuk ghaib dan berombongan kira-kira tahun 1236 Masehi.

Setelah mendengar berita bahwa di Sorawolio ada seorang pertapa perempuan yang ghaib, kermpat penguasa itu menjemputnya dengan membawa Wa kaa Kaa dengan sebuah tandu selanjutnya di bawah ke Istana Sipanjonga di Tobe-Tobe dan sekarang diabadikan Tobe-Tobe itu menjadi Keraton Buton. Dan ditempat injak kaki pertamanya Wa Kaa Kaa berbentuk lubang model mulut kelamin perempuan dan diabadikan menjadi tempat upacara pelantikan Raja-Raja atau Sultan-Sultan di Buton dan lubang itu sampai saat ini masih bias dijumpai letaknya persis dibelakang Mesjid Agung Keraton Buton dan Wa Kaa Kaa pun ketika itu dinobatkan menjadi Raja Pertama Buton.

Dari uraian sejarah di atas, jelas bahwa asal mula adanya Burung Maleo yang saat ini merupalan satwa yang sangat dilindungi oleh Pemerintah dan masuk RDB (Red Data Book) hanya terdapat di Pulau Buton, dan hingga saat ini telah berkembang ke seluruh Sulawesi.

Dalam hasil survey yang dilakukan pada tahun 1979 untuk menentukan habitat Burung Maleo, di Sulawesi Tenggara terdapat tiga tempat, yakni di Bubu Buton utara dimana pantainya berpasir hitam, di pantai maligano dan di Tanjung Kolono Konawe Selatan. Tetapi sayang telur-telurnya banyak diambil oleh orang yang tidak bertanggungjawab dimana juga penjagaannya kurang intensif sehingga perkembangan Burung Maleo itu kurang baik.

Satu lagi kisah antropologis manusia dan margasatwa yang terukir sebagai pelaku sejarah di Pulau Buton pada zamannya dan diperlukan penelitian lebih lanjut secara aksiologis hubungan-hubungan antar atropologis manusia dan ethmologis manusia yang mendiami pulau Buton masa lalu hubungannya dengan silsilah bangsa-bangsa di dunia termasuk konstelasi margasatwanya. Bagi para ahli arkiologis, antropologis kontemporer, ethnologis dan sejarah kini anda semua ditantang untuk dapat menguak bagian-bagian dari kisah ini guna pengembangan khasanah ilmu pengetahuan dan sejarah Indonesia bagi anak cucu kita di kemudian hari.

Jangan lupa baca juga: Inilah 10 Burung Pemakan Kroto

R.M. HOESEIN HAMBARI adalah Ketua Pembinah Al Hikmah Sulawesi Tenggara
(Beliau Telah Wafat Tahun 2004 Lalu di Kendari).
Sumber dari blognya Bapak La Ode Muhammad Ali Habiu: BumiButon.Blogspot.Com
More aboutMaleo Burung Pengicau yang Dilindungi dari Pulau Buton

Apakah Suhu Udara Kandang yang Panas Berpengaruh pada Perkembangan Semut Rangrang?

Posted by Kang Kroto

Apakah Suhu Udara Kandang yang Panas Berpengaruh pada Perkembangan Semut Rangrang? - Berikut ini pertanyaan dari Mas Agus Rusli pada G+ tentang suhu udara yang panas dan pengaruhnya terhadap perkembangan semut rangrang di dalam kandang budidaya.

Pertanyaan:
Kang Kroto kalau kandangnya suhunya panas pengaruh gak buat perkembangan semutnya? Terima kasih.

Jawaban saya:
Mas Agus Rusli, setau saya gak apa apa, asal cukup fentilasi udara. Udara dapat keluar masuk dengan bebas agar udara di dalam kandang tidak terlalu lembab dan tidak terlalu panas.

Seperti kita ketahui, habitat asli semut rangrang di alam adalah pada pepohonan yang rimbun, bisa di pekarangan rumah, perkebunan, ataupun di hutan. Semut rangrang biasanya bersarang pada pepohonan yang memiliki daun rimbun.

Bisa disimpulkan bahwa, semut rangrang menyukai suhu udara yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin.

Untuk menyesuaikan kandang budidaya kroto agar mirip habitat aslinya di alam, maka perlu adanya fentilasi udara yang cukup, agar udara dapat keluar masuk dengan bebas, sehingga suplai oksigen ke dalam kandang berjalan normal demi kenyamanan dan perkembangbiakan semut rangrang.

Sirkulasi udara yang kurang baik menyebabkan suhu menjadi ekstrim, bisa terlalu panas atau terlalu dingin. Agar kandang tidak kekurangan oksigen, maka sirkulasi udara harus lancar, karena oksigen merupakan kebutuhan utama makhluk hidup dalam bernafas agar tetap hidup dan sehat.

Demikian jawaban saya atas pertanyaan: Apakah Suhu Udara Kandang yang Panas Berpengaruh pada Perkembangan Semut Rangrang?

Jika ada kekurangan mohon dimaafkan karena saya juga masih belajar dalam budidaya kroto, dan mohon disempurnakan dengan menuliskan komentar di bawah ini untuk kesuksesan bersama.

Demikian semoga bermanfaat
More aboutApakah Suhu Udara Kandang yang Panas Berpengaruh pada Perkembangan Semut Rangrang?

Benarkah Kroto Bisa Membuat Burung Rajin Berkicau Riang?

Posted by Kang Kroto on Friday, October 24, 2014

Benarkah Kroto Bisa Membuat Burung Rajin Berkicau Riang? - Akhir-akhir ini banyak teman saya yang mulai meminati burung ocehan. Menurut mereka, memelihara burung ocehan yang rajin berkicau bisa menghilangkan stress. Meskipun harganya mahal, mereka berani membeli, "Karena kesenangan dan kegemaran itu mahal harganya" ucap mereka.

Sudah selayaknya, burung mahal tentu saja harus dirawat dengan mahal pula agar performa manggungnya tetap konsisten menghibur pemiliknya. Salah satu syarat agar burung tetap rajin berkicau dengan tetap terjaga kondisi fisik dan performanya adalah dengan menjaga pakannya. Pakan harus memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi.

Merawat burung agar tetap rajin ngoceh bukan hal yang gampang. Jika tidak tepat dalam merawat dan memeliharanya, maka burung kesayangan yang harganya mahal dan bahkan mungkin burung yang tadinya sudah pernah menjuarai kompetisi atau kontes burung akan mengalami drop mentalnya dan kembali menjadi burung bakalan biasa yang bisu.

Hal itulah yang paling ditakutkan oleh para hobiis burung ocehan.
Baca juga: 10 Cara Pemberian Kroto sebagai Pakan Burung Ocehan yang Harus Kita ketahui

Seperti halnya manusia, burung juga memerlukan pakan atau nutrisi tambahan agar tetap terjaga kesehatan dan performanya sehingga tetap rajin berkicau riang setiap harinya. Salah satu pakan berkualitas tinggi yang mengandung banyak protein adalah kroto.

Kandungan protein pada kroto sangat tinggi yang dapat menjaga stamina burung kicauan dan dapat pula memancing agar burung semakin rajin ngoceh. Kadar protein yang tinggi, yaitu kurang lebih 48 persen, mampu membantu agar kondisi fisik burung semakin terjaga kesehatan dan performanya.

Intinya, kroto harus tetap tersedia setiap hari sebagai pakan burung ocehan yang berkualitas agar burung selalu dapat memanjakan pemiliknya dengan berkicau merdu setiap harinya.
Jangan lupa baca juga:

More aboutBenarkah Kroto Bisa Membuat Burung Rajin Berkicau Riang?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...